Saya ingin sharing pengalaman bagaimana 2x berjuang melawan covid.

  1. Bagaimanapun Covid 19 ini nyata adanya, sudah banyak korban bertumbangan, dan sudah banyak yang mengalami betapa sakit dan beratnya perjuangan untuk survive dari virus ini.
  2. Bersikap menggampangkan dan menganggap virus ini hanya flu biasa, tentu bukan sikap yang bijak. Orang yang pernah mengalami dan survive darinya sangat tahu bedanya virus ini dengan flu biasa.
  3. Sikap yang bijak adalah selalu berhati-hati, waspada, menjaga diri dan keluarga agak tidak tertular, dan sekaligus menyiapkan diri jika harus menghadapinya, jika ada keluarga atau diri kita yang tertular, bagaimana cara menangani dan menyikapinya.
  4. Ini adalah kali kedua saya dinyatakan positif covid. Pertama kali tepat pada hari raya Idul Adha saya dinyatakan positif setelah tracking kontak dari kakak saya yang saat itu terkonfirmasi positif, setelah dilakukan swab ternyata saya juga positif.
  5. Beruntungnya saya saat itu kondisi tanpa gejala, jadi hanya menjalani isolasi mandiri di rumah selama 14 hari. Keadaan saya relatif segar dan sehat, tidak ada gejala yang memberatkan. Hanya batuk-batuk kecil, sedikit pusing, tanpa kehilangan selera makan.
  6. Berbeda dengan kakak saya yang harus berjuang hampir 3 minggu perawatan di Rumah Sakit ditambah 2 minggu lebih perawatan di rumah. Saya lihat perjuangannya cukup berat, karena baru minggu ke-5 beliau bisa konsumsi makan.
  7. Saya termasuk orang yang menjaga kesehatan dan menjaga keamanan dengan ketat. Perkerjaan saya sebagai HR mengawasi secara ketat pelaksanaan prokes. Termasuk juga prokes di rumah.
  8. Saya juga ketat menjaga stamina, rajin olahraga (setiap pagi minimal berjalan kaki sepanjang 2-3 km, atau 30 menit, lalu melakukan latihan pernafasan chi-kung), juga menjaga kecukupan nutrisi dan vitamin sebagaimana yang dianjurkan para ahli.
  9. Menjaga stamina ruhani dan spiritual adalah hal wajib yang harus kita lakukan. Pokoknya selalu jaga iman, aman dan iman. Itulah yang saya lakukan.
  10. Dan pada tanggal 25 Desember 2020 saya mengalami gejala stamina ngedrop. Tubuh terasa meriang. Namun saya berusaha ‘melawan’ dengan tetap beraktivitas. Bahkan esok harinya saya masih mengisi pelatihan.
  11. Tanggal 27 saya merasa semakin meriang, terutama di malam hari. Batuk-batuk dan susah tidur. Anehnya pagi sampai sore terasa biasa, mulai menjelang magrib baru tubuh terasa lemas dan malam harinya demam juga batuk.
  12. Kondisi semakin memburuk di haei berikutnya. Istri juga mengalami gejala demam dan batuk. 3 orang anak saya juga mengalami demam mulai hari itu.
  13. Tanggal 29 saya masih bisa nyetir ke RS berjarak 30 km dari rumah, bersama istri menjalani swab test. Sore harinya saya demam lagi. Istri juga demamnya meninggi dan batuknya semakin menggigil. Namun saya berusaha berafirmasi bahwa ini flu biasa.
  14. Tanggal 30 sampai 31 masih berusaha bertahan dan tetap di rumah. Ada 5 orang yang demam di rumah ini. Kami sudah menjaga jarak dan menempati kamar yabg berbeda untuj menjaga semua kemungkinan. Hasil test belum keluar. Namun kami sudah merasa ini gejala covid.
  15. Tanggal 31 sore saya merasa terlalu berat untuk menjalani perawatan di rumah, saya bilang ke istri dan anak-anak kalau mau ‘menyerahkan diri’ ke rumah sakit. Buar dirawat. Saya nyetir sendiri ke IGD. Dan setelah 2-3 jam menunggu akhirnya harus menjalani perawatan disana.
  16. Namun saya tidak bisa langsung masuk kamar perawatan. Karena harus antri. Malam itu saya harus diisolasi di kamar transit. Dan malam itu, kondisi saya terasa memburuk. Demam dan batuk tanpa henti. Baju jadi basah kuyup. Dan sama sekali tidak bisa tidur malam itu.
  17. Malam pergantian tahun baru terasa menyakitkan malam itu. Di luar jendela kamar isolasi, terdengar riuh dan suara petasan walau tidak seramai malam tahun baru sebelumnya. Tapi saya dalam kondisi batuk luar biasa. Tidak tidur sampai pagi harinya.
  18. Tahun baru siang itu saya dipindah ke ruang isolasi sebenarnya. Tempatnya lebih nyaman, tapi kondisi saya belum membaik. Saya hanya mengganti baju yang basah oleh keringat. Belum bisa mandi, karena jika tersentuh air, batuk semakin menggigil.
  19. Sampai hampir 4 malam saya tidak bisa tidur. Demam setiap malam. Indera pengecap dan penciuman sudah tidak berfungsi. Makan hanya bubur beberapa suap. Dan saya menjalaninya sendiri. Di ruang isolasi.
  20. Semakin sedih karena istri saya juga harus dibawa ke RS. Kondisinya tidak cukup baik jika dirawat di rumah. Hari itu pihak RS mengupayakan ruang perawatan yang bisa untuk kami berdua.
  21. Sejak hari itu kami dirawat bersamaan, di ruang isolasi di lantai 4 rumah sakit. Jendela yang kalau dibuka, hanya bisa menikmati pemandangan kubah masjid Al Hamid. Itulah pemandangan setiap hariku.
  22. Hari ke-6 di RS kondisi saya mulai membaik. Namun saturasi saya menurun. Saya diberi selang oksigen. Batuk-batuk sudah mulai berkurang dan sedikit-sedikit sudah mulai bisa tidur. Namun kondisi istri saya belum sebaik saya. Kondisinya masih sangat lemas. Belum bisa makan.
  23. Begitulah kami menjalani perawatan ini bersama-sama. Perawat hanya masuk ke ruangan kami pada jam-jam khusus yang dijadwalkan. Sehari 3x kalau tidak salah. Dokter juga hanya sekali sehari visit.
  24. Pernah ada kejadian istri kondisi ngedrop banget. Nafasnya sesak sangat, kondisi sangat payah, badan, kaki tangan semuanya dingin, bahkan sudah pamitan mau pergi, saya sampai menangis dan hanya bisa berdoa. Lewat interkom, perawat hanya menjawab seadanya, bilang nanti akan ke ruangan sesuai jadwal.
  25. Boleh dibilang itulah saat paling mencemaskan. Saya sudah menangis sejadi-jadinya, takut terjadi apa-apa dengan istri. Namun ini ruang isolasi. Tidak ada orang yang dimintai bantuan. Kejadian ini berlangsung sekitar jam 7 pagi, hingga kurang lebih 1 jam lamanya.
  26. Beberapa saat kemudian kondisi istri mulai membaik. Tubuhnya tidak lagi dingin. Saya memindahkan selang oksigen untuk dipakai dia. Dan perlahan-lahan kondisinya stabil. Kaki dan tangannya tidak lagi dingin. Saya semakin tenang.
  27. Kondisi saya mulai membaik. Sudah 8 hari saya dirawat disini. Dokter bilang saya boleh pulang esok hari sambil menunggu kondisi istri lebih stabil.
  28. Tanggal 8 Januari malam hari kami diperbolehkan pulang. Sebenarnya kondisi istri masih lemah, namun dia bilang ingin di rumah saja. Kami pulang tanpa bantuan siapapun. Karena kan kondisi Covid. Dari ruang rawat, saya mendorong kursi roda, membawa istri dan barang bawaan ke lantai bawah, ke tempat parkir.
  29. Kebetulan saya parkir di lapangan parkir yang agak jauh dari RS. Istri saya titipkan di pos satpam, saya mengambil mobil, lalu menjemputnya, memasukkan semua barang dan memapah istri ke mobil. Kami pulang ke rumah malam itu.
  30. Sampai di rumah, kami melanjutkan perawatan mandiri. Masih ada obat-obatan yang ukurannya besar-besar dan harus dikonsumsi sampai 5 hari ke depan. Kondisi saya sudah stabil, sudah mulai makan, sudah bisa tidur walau belum nyenyak (masih terbayang suasana RS) dan masih batuk.
  31. Istri masih kondisi lemas, kepala masih sakit, kadang terasa berputar, dan masih belum bisa berdiri tegak. Makan juga belum banyak. Saya kadang-kadang mengajaknya keliling kota, dengan mobil berdua…agar hatinya tenang dan perasaannya rileks.
  32. Hari ini adalah hari ke-22 sejak kami merasakan gejala, dan hari ke-17 sejak dinyatakan positif. Kami harus menjalani isolasi dan perawatan mandiri lagi sampai tanggal 23 Januari nanti.
  33. Sungguh tidak nyaman rasanya terkena covid. Tidak enak. Rasanya sakit sekali. Tidak enak makan, tidak enak tidur, tenggorokan sakit, rasa nyeri di dada, badan lemas dan pegal. Pokoknya campur aduk.
  34. Bisa menikmati hidup lagi, rasanya seperti diberi kesempatan kedua untuk hidup di dunia ini.
  35. Banyak nasehat, rekomendasi obat, terapi, doa, resep dan aneka macam nasehat dan dorongan dari teman-teman. Namun yang paling tahu kondisi diri kita adalah kita sendiri. Di saat seperti ini, mengistirahatkan HP dan fokus pasrah kepada Allah, melakukan ikhtiar yang kita mampu dan terus berdoa…
  36. Ikhtiar yang kami lakukan salah satunya ialah mengkonsumsi British Propolis setiap hari, sebelum jam makan, ketika perut kosong.
  37. Itulah yang bisa kita lakukan. Saya kadang ingin tiwalah banyak, tapi kondisi nafas dan tersengal-sengal buat bava Al Quran. Kadang saya hanya mendengarkan murotal, atau membaca dalam hati, atau kadang hanya memeluk Al Quran sambil berdoa memohon barokah saja
  38. Pokoknya kondisi kita, kita yang tahu, kita yang merasakan.
  39. Karena itu pesan saya, jagalah diri dan keluarga kita. Jangan sampai tertular. Meskipun kita juga harus sadar bahwa jika Allah berkehendak, kita bisa tertular kapan saja. Bersiap untuk tetap selalu sehat, jangan sampai tertular.
  40. Sekaligus juga siap jika memnag ditakdirkan tertular, harus siap mental dan ilmu. Pengalaman dari oranglain bisa menjadi bekal pengetahuan untuk kesiapan.
  41. Yang lebih penting jaga kesehatan. Jaga imunitas. Jaga keamanan, ikuti prokes dengan taat. Dan juga jaga iman. Karena sumber kesehatan terbaik adalah stabilitas iman.
  42. Semoga sharing ini bermanfaat. Dan semoga Anda dan keluarga sehat selalu.

Twitter @jumadisubur